RSS

Inilah 12 Jawara Wirausahawan Muda


Demi mendorong lahirnya lebih banyak wirausahawan muda Indonesia, Bank Mandiri, Jumat (22/1/2010) memberikan penghargaan kepada 12 pengusaha muda.

Mereka yang terpilih dari Program Wirausaha Mandiri tersebut adalah mahasiswa-mahasiswa yang diseleksi dari 200 perguruan tinggi yang ada di seluruh Indonesia. Pemenang terdiri dari kategori mahasiswa Diploma dan Sarjana serta kategori mahasiswa Pascasarjana dan Alumni.

"Kita bahagia sekali karena ini adalah tahun ke-4. Workshop Mandiri ini diikuti oleh mahasiswa maupun pascasarjana dari 200 perguruan tinggi di seluruh Indonesia," kata Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo, kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (22/1/2010).

Lebih lanjut Agus berharap, mereka yang lahir dalam Program Wirausaha Mandiri tersebut dapat menancapkan kakinya di dunia usaha guna menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar. "Apabila kita dapat menciptakan setidaknya 2 persen enterpreneur dari total penduduk Indonesia, maka negara yang makmur akan terwujud," tandasnya.

Pemenang-pemenang tersebut telah masa penyeleksian selama tiga bulan yang diawali dengan pendaftaran di sembilan titik pelaksanaan, yaitu Medan, Palembang, Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Banjarmasin, Makassar, dan Denpasar.

Pemberian penghargaan yang juga dihadiri Wakil Presiden RI Boediono, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, dan Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, tersebut juga dihadiri oleh 4.000 mahasiswa di Jadebotabek yang sedang mengikuti worksop Wirausaha Mandiri.

Penghargaan tersebut terdiri atas tiga kategori bidang usaha, yaitu industri dan jasa, boga, dan kategori kreatif.

Dari kategori mahasiswa program sarjana dan diploma, kategori usaha industri dan jasa, pemenang I adalah Ance Trio Marta (IPB) dan pemenang II Tri Wahyudi (Universitas Diponegoro).

Kategori Boga, pemenang I yaitu Dymas Tunggul Panuju (Universitas Brawijaya), dan pemenang II adalah Saiqa Ilham Akbar BS (UGM).

Sementara untuk kategori kreatif, dimenangkan oleh Brian Arfi Faridhi (ITS), pemenang II Indra Haryadi (UGM). Selanjutnya, untuk kategori Alumni dan Pascasarjana, di bidang usaha Industri dan Jasa, pemenang I adalah Agung Nugroho (UGM), dan pemenang II Rudik Setiawan (Universitas Muhammadiyah). Kategori boga, dimenangkan oleh Tririan Arianto (STT Telkom) dan Toni Hadi Putra (Universitas Jenderal Ahmad Yani).

Terakhir, pada kategori kreatif, pemenang I yaitu Muhammad Satrianugraha (Institut Teknologi Nasional), dan pemenang II Atthur Sahadewa Widjaja (IST Akprind Yogyakarta).

Pemenang Young Changemakers Award Dapat Segudang Hadiah


Dua puluh anak muda penerima penghargaan Young Changemakers (YCM) 2009 mengaku, sangat bangga sekaligus senang mendapatkan penghargaan yang diprakarsai oleh Ashoka dengan dukungan dari Indonesia Business Link dan Ford Foundation itu.

Ungkapan ini mereka sampaikan di hadapan Kompas.com usai prosesi penyerahan piagam YCM Rabu (20/1/2010) ini di STIM PPM, Jakarta Pusat. Bagaimana tidak bangga dan senang? Dengan memenangkan penghargaan tersebut berarti kesempatan mereka untuk mengontribusikan gagasannya kepada masyarakat semakin terbuka lebar. Ditambah lagi, adanya segudang hadiah yang sudah menanti di depan mata.

Ya, usai memenangkan YCM Award para pemuda ini nantinya memang akan mendapatkan segudang hadiah. Mereka akan bergabung dengan komunitas Pembaharu Global dan akan menerima dukungan dana investasi pengembangan kegiatan senilai Rp 2,5 juta rupiah.

Mereka juga akan mendapat dukungan pengembangan kapasitas melalui pelatihan dan mentoring serta akan difasilitasi untuk berjejaring dengan pembaharu sebaya di tingkat nasional dan internasional. Maka dari itu, bagi para generasi muda kreatif, jangan ragu untuk mengeluarkan gagasan dan kreativitas Anda melalui YCM Award. Karena, di samping bermanfaat, kesempatan Anda untuk mendapatkan segudang hadiah tadi juga terbuka lebar.

Inilah 20 Anak Muda Kreatif Indonesia



Dua puluh anak muda kreatif asal Jawa, Sumatera, dan Bali menerima Young Changemakers (YCM) Award 2009 dari asosiasi global wirausahawan sosial Ashoka dan organisasi nirlaba Indonesia Business Links (IBL), Rabu (20/1/2010) ini.

Kedua puluh anak muda yang berusia antara 12 sampai 25 tahun itu terpilih sebagai pembaharu muda 2009 karena dianggap berhasil memberikan ide kreatif sekaligus kontribusi nyata dalam membuat perubahan di masyarakat.

Untuk mendapat penghargaan YCM anak-anak muda itu ternyata harus melewati proses yang tidak mudah. Mereka harus bersaing ketat dengan ratusan anak muda lainnya dalam beberapa tahapan seleksi.

Para pembaharu muda terpilih dari Indonesia itu nantinya akan bergabung dengan komunitas pembaharu global yang jumlahnya lebih dari 900 tim. Di Indonesia sendiri, sejak dikembangkan lima tahun lalu, ada 75 kaum muda yang bergabung dalam komunitas Young Changemakers Ashoka Indonesia.

Mereka yang terpilih ini adalah mereka yang dianggap memenuhi kriteria kreatif, memiliki empati sosial, sikap kepemimpinan, kemauan bekerja sama yang tinggi, dan tentu saja mampu menggagas kegiatan-kegiatan sosial yang menarik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Menurut Agni, Koordinator Program Ashoka Young Changemakers, proses penyeleksian dan penilaian sudah dimulai sejak awal tahun 2009 lalu. "Salah satu kriterianya, kontribusi nyata mereka memberikan gagasan mengenai sebuah kegiatan sosial menarik yang berdampak pada masyarakat dan bagaimana mereka mengembangkannya," ujar Agni saat ditemui usai acara penganugerahan YCM Rabu ini, di Jakarta.

Tak salah memang jika yang terpilih adalah kedua puluh anak muda itu karena dibalik usia belia mereka, dua puluh anak muda itu telah mampu menggagas sekaligus mengembangkan program kegiatan sosial yang ampuh membawa perubahan bagi masyarakat di sekitarnya.

Enes contohnya, remaja asal Salatiga ini telah berhasil mengembangkan kreativitasnya memanfaatkan daur ulang sampah untuk industri rumah tangga. Kegiatan yang digerakkan Enes ini ternyata berhasil menciptakan keberdayaan ekonomi sekaligus memecahkan masalah lingkungan di kawasan tempat dirinya tinggal.

Tak hanya Enes, gagasan program kegiatan menarik juga ditawarkan oleh para penerima YCM award lainnya. Misalnya, pembuatan media kreatif edukasi lingkungan berbasis generasi muda; kegiatan pelestarian telaga berbasis edukasi masyarakat; pembuatan robot mainan dari sampah nonorganik; dan program sensus serangga air untuk pelestarian sungai atau kali.

Mengapa semua program kegiatannya terkait dengan isu lingkungan? Setiap tahunnya, YCM Award memang mengangkat tema berbeda untuk para peserta seleksi. Tahun 2009 lalu, tema yang diangkat adalah lingkungan, tepatnya mengenai air dan sanitasi.

Sementara itu, diungkapkan Direktur Ashoka Indonesia Mira Kusumarini, Young Changemakers Award tahun 2010 ini akan mengusung tema hak asasi manusia (HAM).

Ashoka merupakan asosiasi global wirausaha sosial. Tujuannya untuk mengindentifiaksi dan mendorong individu-individu yang memiliki visi, kreativitas, dan kegigihan luar biasa dalam kewirausahaan yang mendedikasikan bagi pemecahan masalah sosial.

Jadi, bagi para anak muda yang mempunyai ide atau bahkan telah mengembangkan program sosial terkait HAM, persiapkan diri Anda untuk YCM Award selanjutnya!

Mengunduh Untung dari Demam Internet


Kini boleh dibilang internet benar-benar tengah memasyarakat. Semakin banyak orang yang enggan berpisah dari internet barang sehari pun. Tak sedikit orang dan perusahaan yang makin bergantung pada internet, dari sekadar untuk menyapa teman lama sampai melancarkan urusan bisnis nan serius.


Tak heran, kini banyak warung internet (warnet) yang selalu penuh pengunjung. Kian banyak pula orang yang lebih suka mengakses internet di rumah dengan cara berlangganan layanan akses internet sendiri. Selain tak perlu keluar rumah, mereka lebih bebas menentukan waktu ngenet.

Sekarang banyak tawaran berlangganan internet di rumah. Selain menjadi pelanggan layanan internet service provider (ISP) kelas kakap, termasuk melalui operator telepon seluler, kita bisa juga berlangganan layanan dari ISP-ISP kecil.

Sebenarnya, nyaris tak ada beda antara ISP kelas rumahan ini dan ISP kelas kakap. Asal tahu saja, kebanyakan pebisnis ISP kelas rumahan ini sebenarnya mendapatkan akses internet dari ISP besar juga. “Intinya, kami berbagi jaringan kepada pelanggan,” ujar Mulyadi Bakir, penyedia ISP kelas rumahan.

Praktik bisnis ini memang mirip dengan bisnis warnet. Perbedaannya, pelanggan tidak perlu bertandang ke warnet bila ingin berselancar ke dunia maya. Penyedia layanan ISP akan menyediakan jaringan internet ke rumah pelanggan.

Ternyata, bisnis ini cukup mendapat sambutan yang positif. Selain karena kualitas internet lebih stabil ketimbang akses internet dari operator ponsel, akses internet melalui ISP umumnya juga lebih cepat ketimbang di warnet. Itu sebabnya, banyak orang lebih suka menggantungkan layanan dari ISP kelas rumahan ini.

Mandiri

Tengok saja pengalaman usaha Mulyadi yang menggeluti usaha internet rumahan ini sejak empat tahun lalu. Menamai usahanya dengan nama Warnet Rumahan, Mulyadi mengawali usaha dengan membuka warnet. Seiring dengan banyaknya permintaan pelanggan untuk pemasangan instalasi internet ke rumah, Mulyadi bertekad membangun jaringan. “Modal awalnya hanya Rp 40 juta untuk membuat menara dan jaringan,” cetus dia.

Berbeda dengan bisnis warnet yang digelutinya, usaha ISP yang dilakoninya lebih mudah. Dia, misalnya, tak perlu menyediakan komputer, pemilik rumah yang jadi pelanggan pasti punya komputer sendiri. Mulyadi hanya perlu membagi bandwidth atau kapasitas jaringan internet yang dibelinya dari ISP kelas kakap.

Cara Mulyadi menggulirkan bisnis ini lebih kurang seperti berikut. Dia berlangganan internet dari ISP perusahaan telekomunikasi dengan kapasitas bandwidth sebesar 1,7 megabyte berbiaya berlangganan Rp 1,1 juta per bulan.

Dari jatah bandwidth yang dia peroleh, Mulyadi bisa melebarkan jaringan internet ke sekitarnya melalui teknologi tanpa kabel. Pelanggan kudu membayar jaringan yang dipakainya Rp 250.000 per bulan. Sayang tawaran ini kurang menarik di mata pelanggan. Kata Mulyadi, banyak pelanggan lebih suka memanfaatkan jaringan internet yang dia sediakan dengan sistem perhitungan per jam. “Biayanya cuma Rp 3.500 per jam,” katanya.

Nah, dengan pola perhitungan per jam inilah Mulyadi justru memperoleh penghasilan lumayan, yakni Rp 400.00 per hari. Dalam sebulan Mulyadi bisa membukukan omzet Rp 12 juta. Setelah dikurangi biaya operasional serta gaji pegawai, keuntungan bersih yang dia dapat sekitar Rp 4 juta.

Rupanya, ada sebab pelanggannya lebih suka hitungan per jam seperti di warnet. “Pelanggan bisa memaksimalkan penggunaan internet di rumah saat membutuhkan tanpa perlu ongkos besar,” ujarnya. Mulyadi juga diuntungkan dalam pembagian kecepatan dan kestabilan layanan internet karena pelanggan umumnya tak memakai dalam waktu bersamaan.

Selain usaha ini, Mulyadi juga bisa memperoleh penghasilan lain dari melayani pemasangan dan instalasi jaringan internet di seluruh DKI Jakarta. Khusus untuk layanan internet berlangganan di rumah, jangkauan pasarnya baru seputar rumahnya di Cikokol, Tangerang.

Kalau tertarik ingin menjalankan bisnis serupa, sebelum membuka usaha, sebaiknya Anda terlebih dahulu mengurus izin mendirikan usaha serta izin menjadi distributor ISP dari Kementerian Komunikasi dan Informatika serta membangun menara. “Ini enggak gampang, tapi bisa dilakukan,” ujar Mulyadi berbagi tips.

Kemitraan

Jika tak mau repot dengan urusan perizinan, Anda bisa juga menjadi pengusaha internet rumahan dengan menjadi mitra usaha serupa yang telah lebih dulu beroperasi. Salah satu ISP yang menawarkan kemitraan adalah Net Home.

Saat ini Net Home baru menawarkan sistem kemitraan usaha yang berlokasi di daerah Bekasi dan sekitarnya. Namun, kini Net Home mulai mengepakkan sayap ke Depok dan Jakarta. Khusus untuk dua wilayah ini, Net Home baru menyediakan layanan set up jaringan internet dengan sistem beli putus.

Ini berbeda dengan wilayah Bekasi dan sekitarnya. Net Home sudah berani menawarkan kemitraan kepada investor. Bermodalkan Rp 13,5 juta, mitra berhak mendapatkan instalasi internet, bandwidth dengan kecepatan 128 kilobyte per detik, serta menara pemancar yang siap beroperasi.

Tak perlu khawatir sulit mengoperasikan bisnis ini meski Anda tidak memiliki keahlian atau pengetahuan yang cukup mengenai teknis jaringan internet. “Kami menyediakan teknisi yang siap melakukan perbaikan jaringan,“ ujar Deddy Kurniawan, pemasar Net Home, berhawa promosi.

Selain itu, Net Home juga akan ikut mencarikan pelanggan bagi semua mitranya. “Jika kami yang mendapat pelanggan, kami akan menyalurkan kepada mitra yang berada di daerah pelanggan itu,” ujarnya.

Tak hanya itu. Mitra juga punya hak selalu ikut serta dalam iklan dan promosi Net Home di semua media, baik di majalah, koran, maupun internet. Dengan berbagai fasilitas dan kewajiban tersebut, Net Home memakai sistem bagi hasil. Sebesar 60 persen dari total omzet diperoleh si mitra.

Omzet mitra usaha tentu saja diperoleh dari pembayaran biaya langganan konsumen yang tak lain pemakai yang menggunakan jejaring internet. Untuk menjadi pelanggan, mereka harus membayar biaya registrasi sebesar Rp 200.000. Biaya ini belum termasuk kabel dan radio penangkap sinyal alias jaringan internet (dekoder) yang bisa disediakan sendiri oleh pelanggan. “Kalau pelanggan menginginkan, kami bisa menyediakan semua alat ini,” kata Deddy.

Untuk itu, pelanggan harus menambah pembayaran total menjadi Rp 1 juta untuk biaya instalasi berikut modem. “Biaya pendaftaran berikut biaya instalasi menjadi hak Net Home,” ujar Deddy.

Lalu, dari mana mitra mendapat keuntungan? Tentu saja mereka bisa memperolehnya dari penerimaan layanan berlangganan internet oleh konsumen. Saban bulan pelanggan harus membayar biaya berlangganan sebesar Rp 250.000.

Dengan asumsi seperti ini, jika mitra punya minimal lima pelanggan saja, dia akan mendapatkan omzet Rp 1,25 juta dari uang berlangganan. Dari omzet ini, mitra memang harus menyetor Rp 750.000 ke Net Home. “Sisanya untuk si mitra,” ujarnya.

Menurut hitungan Deddy, dengan jumlah pelanggan stagnan hanya 10 pelanggan, mitra bisa balik modal dalam 14 bulan. “Semakin banyak jumlah pelanggan, waktu yang dibutuhkan untuk balik modal tentu semakin cepat,” lanjutnya.

Deddy yakin, semakin tingginya animo masyarakat untuk menggunakan internet, pasar dalam bisnis ini akan terus mengembang. Bahkan, jika dalam satu tahun bisa punya 45 pelanggan, omzet mereka mengembang jadi Rp 11,25 juta, dengan keuntungan sekitar Rp 5,62 juta per bulan untuk mitra. Tentu saja, si mitra harus tetap menjaga kualitas layanan internet tetap stabil dan cepat. “Berarti, ada konsekuensi penambahan bandwidth,” ujar Deddy.

Mereka tak lagi bisa mengandalkan kapasitas semula, yakni 128 kilobyte per detik yang hanya bisa melayani sekitar 15 pemakai internet. Namun, ini tak jadi soal bagi mitra karena penambahan bandwidth tidak berarti ada biaya tambahan. Net Home akan menambah langsung kebutuhan tambahan bandwidth tersebut.