RSS

Pulang dari Jepang Diharapkan Jadi Wirausaha


Departemen Tenaga Kerja siapkan 117 pemuda lulusan SMU untuk mengikuti program magang ke Jepang. Pembekalan ke-117 pemuda lulusan SMU dan STM ini dilakukan di Balai Besar Pengembangan Tenaga Kerja Luar Negeri, Cevest, Jl Guntur Raya No. 1, Bekasi Barat, Senin (8/2/2010).

Ke-117 pemuda ini adalah lulusan SMU dan STM dari seluruh daerah yang ada di Indonesia. Pemuda-pemuda yang akan mengikuti program magang di Jepang antara lain berasal dari daerah Bali, Bengkulu, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Medan, Pondok Pesantren, dan Riau. Tahun ini sebanyak 117 orang akan mengikuti program magang di Jepang.

Mereka sebelumnya telah mengukuti masa pelatihan dari 14 Desember 2009 sampai dengan 10 Februari 2010. Jumlah awal pemuda yang masuk seleksi tahap pertama sebanyak 141 orang, setelah mengikuti proses selanjutnya jumlah akhirnya menjadi 117 orang pemuda.

Pemuda dengan nilai tertinggi yang berada di urutan pertama adalah Mohamad Jamroji asal Jawa Timur dengan nilai A 97,7, urutan ke dua Muhamad Anas Junaidi asal Pondok Pesantren dengan nilai A 95,8, I Wayan Sudiarsana asal Bali dengan nilai A 94,5. Pembekalan di Balai Besar Pengembangan Tenaga Kerja Luar Negeri, Cevest ini meliputi pembekalan mental, sikap, disiplin, pembekalan bahasa Jepang, pembekalan budaya.

"Mereka dibekali dengan pelatihan mental, budaya, serta bahasa Jepang," ucap Direktur Pemagangan, Drs. Mulyanto di BBPTKLN, Cevest, Bekasi Barat, Senin (8/2/2010).

Dengan pembekalan mental, sikap, disiplin, bahasa dan budaya Jepang ini semoga bisa menjadi bekal mereka di Jepang nantinya selama 3 tahun ke depan. "Semoga dengan pembekalan ini, bisa menjadi modal mereka untuk berkomunikasi, beradaptasi di Jepang. Karena di Jepang ada 4 musim, sehingga pembekalan disini bisa membuat mereka beradaptasi dengan ke empat musim itu," ucap Mulyanto.

Mulyanto berharap setelah mengikuti program magang di Jepang ini ke-117 pemuda Indonesia ini bisa mendapat ilmu dan bisa berwirausaha. "Semoga sebalik dari Jepang nanti mereka semua tidak menganggur lagi, bisa berwirausaha, karena selain keterampilan yang didapat mereka juga akan memperoleh uang pembekalan sebesar 600 ribu yen sepulang dari Jepang," ucap Mulyanto.

Program magang ini, ke depannya tidak hanya akan diadakan di Jepang, tetapi bisa dilakukan di Cina, Vietnam, Australia, dan Kanada. "Kita coba tahun-tahun ke depan akan dilakukan di Australia, Kanada, Timur Tengah," ucap Mulyanto. Pembekalan ini bekerjasama dengan Universitas Ciputra yang diwakili oleh Antonius Tanan, Presiden Universitas Ciputra Entrepreneurship Center.

Bisnis Kerajinan Logam Beromzet Ratusan Juta


Sampai kapan pun pamor kerajinan berbahan baku dari alam tidak akan pernah redup. Salah satunya adalah kerajinan alam berbahan baku logam. Hal itu disebabkan kerajinan logam termasuk salah satu produk kerajinan yang memiliki estetika tinggi dan relatif tahan lama.

Tengok saja pengalaman salah satu perajin logam dari Boyolali bernama Johan Laksmana. Ia telah berkecimpung sebagai perajin logam sejak tahun 2003. Berbekal ilmu mengikuti atasannya menjadi perajin logam selama lima tahun, akhirnya ia berani menjalankan bisnis logam seorang diri dengan mengusung nama Laksmana Art. "Kerajinan logam prospek pasarnya kian lama makin bagus," katanya.

Misalnya saja replika bunga raflesia. Ia bisa membuat replika raflesia dengan beragam ukuran, tergantung dari pesanan. Umumnya Johan membuat replika bunga raflesia mulai dari diameter 20 sentimeter (cm) hingga ukuran 40 cm ke atas. "Fungsinya untuk hiasan dinding," katanya.

Pembuatan replika bunga raflesia berdiameter 20 cm membutuhkan waktu sekitar 6 hari. Sementara untuk ukuran yang lebih besar butuh waktu pengerjaan minimal 10 hari.

Harga jual kerajinan replika raflesianya yang berukuran 20 cm mulai dari Rp 2,8 juta per unit. "Marginnya sekitar 10 persen karena saat ini persaingan harga cukup ketat," katanya.

Ia pun membuat beraneka ragam kerajinan logam lainnya, seperti bathtub, wastafel, cawan, guci, tutup kloset, relief, bandul, dan juga gantungan kunci. Harga kerajinan tangan logamnya beraneka ragam, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Namanya juga bisnis, suatu waktu pesanan sepi dan pada waktu lain pesanan membeludak sehingga omzetnya tak pernah stabil. "Kalau sedang ramai pesanan omzet sebulan bisa sampai Rp 150 juta per bulan," katanya.

Mencicipi Manisnya Laba Bisnis Fro-Yo


Tren menikmati frozen yoghurt kini menjangkiti masyarakat urban. Hampir di setiap pusat perbelanjaan terdapat kafe maupun gerai mini take away (booth) yang menjajakan yoghurt beku, plus campuran es krim dan bertabur topping aneka rasa. Produk berbasis susu ini diyakini bisa memperhalus kulit dan bikin awet muda.


Dalam dua tahun belakangan ini beredar setidaknya 75 merek frozen yoghurt (fro-yo) di Indonesia. Tak semua merek bisa bertahan, ada yang timbul, lalu tenggelam, tapi ada juga yang muncul dan terus membesar.

Salah satu pionir gerai fro-yo di Indonesia adalah PT Berjaya Sally Ceria (PT BSC) yang mengusung merek Sour Sally. Meski baru berusia 1,5 tahun, Sour Sally yang menyasar kelas premium telah berkembang menjadi 36 gerai. Gerai ini tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, sebut saja Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Denpasar.

Melihat tanggapan masyarakat yang begitu antusias, PT BSC tergoda untuk menawarkan waralaba dengan merek Yogu Buzz. "Kami sengaja menciptakan second brand sebelum membuka peluang waralaba agar segmen pasar lebih menyebar," ujar Sagita Kwee, Brand Marketing Manager Sour Sally, yang juga mengurusi waralaba Yogu Buzz.

Rencananya, harga produk Yogu Buzz lebih miring ketimbang yoghurt di Sour Sally, berkisar Rp 14.500 per cup. Sebagai pembanding, harga yoghurt di Sour Sally Rp 17.500-Rp 64.000 per cup.

Gerainya pun tak berkonsep kafe butik seperti Sour Sally. Bentuknya hanya semacam booth pesan bawa. Yogu Buzz juga hanya menjual fro-yo dalam ukuran personal (single). "Slogan Yogu Buzz adalah Fro-Yo for Everyone," ujar Sagita.

Kendati merupakan second brand, Sagita meyakinkan, bahan-bahan yang dipasok PT BSC sebagai master franchise ke Yogu Buzz merupakan bahan impor berkualitas.

Minat terhadap waralaba ini ternyata luar biasa. Baru ditawarkan November 2009 lalu, peminat yang masuk sampai kini mencapai 300 orang. Tapi, sebagai tahap awal, PT BSC hanya memilih 5-10 terwaralaba di wilayah Jabodetabek. "Kami tak mau terlalu agresif," kata Sagita.

Jika Anda juga berminat, tak perlu risau. Anda masih bisa mendaftar. Sebab, proses seleksi untuk mendapat hak waralaba Yogu Buzz baru berlangsung April nanti.

Yogu Buzz menetapkan biaya lisensi Rp 350 juta-Rp 450 juta. Sebagai gantinya, terwaralaba mendapat hak lisensi, pasokan bahan baku gratis selama sebulan, mesin produksi, seluruh perlengkapan operasional, display booth, dan estimasi biaya sewa tempat setahun. "Selebihnya akan kami rinci saat pertemuan dengan calon terwaralaba," ujar Marcus Kandou, Marketing Communications dan PR Director Sour Sally.

Sagita memperkirakan, jika satu booth Yogu Buzz berhasil menjaring penjualan sekitar Rp 3 juta per hari, modal mitra waralaba bisa kembali dalam waktu setahun.

Menurut Bambang N Rachmadi, pengamat waralaba sekaligus dosen di Universitas Indonesia, prospek bisnis frozen yoghurt di Indonesia masih sangat bagus. Alasannya, "Potensi pasar masyarakat Indonesia sangat besar dan pendapatan per kapita konsumen diharapkan semakin meningkat."

Bambang juga sangat mendukung upaya pengembangan waralaba lokal seperti Yogu Buzz ini. "Sebaiknya, Yogu Buzz mengembangkan format bisnis sendiri yang simpel," sarannya. Namun, ia berharap waralaba baru ini menawarkan harga franchise yang tidak terlampau mahal. "Supaya bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat," tegasnya.

Boneka Rumput yang Mampu Cetak Omzet Rp 1 Miliar


Sebagai wirausahawan, Gigin Mardiansyah memang baru berusia 26 tahun. Namun, pria muda ini telah meraih omzet mencapai Rp 1 miliar per tahun dari hasil boneka Horta yang dipasarkannya bersama kawan-kawannya.

Boneka Horta ini tampil dengan beragam rupa. Ada yang berbentuk kura-kura, sapi, babi, panda, ataupun boneka berbentuk kepala manusia. Berbeda dengan boneka lain, boneka Horta bisa dibilang seperti tanaman. Jika setiap hari disiram dengan rajin, di bagian atasnya akan tumbuh rumput.

Lantas, kenapa diberi nama Horta?

Saat ditemui di sela-sela Expo Wirausaha Mandiri, Gigin menjelaskan, kata Horta sebetulnya adalah singkatan dari hortikultura. "Dulu kan saya kuliah di Program Studi Hortikultura IPB (Institut Pertanian Bogor)," ujar dia yang kini telah lulus dari IPB, Sabtu (23/1/2010).

Ide awal pembuatan boneka Horta ini sebetulnya dari dosen IPB, Dr Ni Made Armini Wiendy, yang ingin membuat media edukasi buat anak-anak supaya mengenal tanaman sejak dini. Kemudian, Gigin dan keenam rekannya tertarik untuk membuat boneka karena dinilai tepat dan menarik untuk menjadi media edukasi bagi anak-anak.

Gigin akhirnya mengajukan proposal ke Dirjen Pendidikan Tinggi melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). "Alhamdulillah proposalnya diterima dan kami mendapatkan dana untuk pengembangan usaha Rp 4,75 juta. Jadi, itulah modal awal kami," kisah dia. Gigin pun memulai memproduksi boneka Horta.

Boneka ini bisa ditumbuhi rumput karena terbuat dari bahan utama serbuk kayu yang diperoleh dari limbah industri lainnya. Bahan lainnya, kata Gigin, adalah benih rumput, arang sekam, pupuk, stocking, dan aksesori boneka seperti mata, pita-pita, dan kancing.

"Benihnya kami sebar di sekitar kepala. Bahannya kami peroleh di sekitar Bogor saja, kecuali benih rumput yang harus kami datangkan dari Amerika," kata Gigin. Pasalnya, benih rumput lokal hingga kini masih sulit diperoleh. Karena itu pula, kini Gigin dan teman-temannya terus mengadakan penelitian mengenai benih rumput lokal. Dalam setahun, Gigin setidaknya mengimpor benih rumput sekitar 1 ton dari Amerika.

Kini, produknya sudah dipasarkan hampir di seluruh Indonesia. Pesanan dari berbagai perusahaan pun semakin membanjir. Boneka Horta juga bisa dibeli langsung di kiosnya, Jalan Babakan Tengah, Darmaga, Bogor. Boneka ini dipasarkan mulai harga Rp 20.000.

"Kami kasih garansi kalau enggak tumbuh bisa dikembalikan ke kami, bisa kami tukar dengan yang baru," kata Gigin.